Minggu, 15 Januari 2012

ARISTOTELES ONASSIS

Aristoteles Onassis dilahirkan pada tanggal 20 Januari 1906 di Simyrna, sebuah kota Yunani yang makmur di pantai Barat Turki. Di antara kesepuluh orang kaya kita, Aristotle
Onassis memiliki kekayaan luar biasa, yang dihitung dalam miliaran, bukannya jutaan.
Kemasyhuran namanya masih ditambah lagi dengan hubungannya yang penuh gejolak
dengan Maria Callas, penyanyi opera yang terkenal, dan kemudian dengan Jacquiline
Bouvier Kennedy. Dan seperti lazimnya, berbagai kisah yang dilebih-lebihkan atau setengah
dongeng telah beredar, mengenai dia, terutama mengenai asal-usulnya yang sederhana.
Konon, ia lahir dari sebuah keluarga miskin, yang hidupnya selalu kekurangan. Konon,
ayahnya adalah penjaja dagangan buatan sendiri dari pintu ke pintu, dan ibunya pembantu
rumah tangga. Onassis tidak pernah mencoba meluruskan pendapat orang banyak tentang
masa lalunya, sekurang-kurangnya dimuka umum, karena kisah-kisah seperti itu biasanya
malah menambah cemerlang aura misteri yang mengelilingi dirinya. Ia selalu menyadari
pentingnya citra diri seseorang dalam meraih sukses, suatu hal yang akan kita bicarakan lagi
nanti.
Dalam kenyataan, ayah Onassis adalah seorang pedagang grosir yang
berkecukupan dan mempunyai nama sebab ia juga menjabat presiden sebuah bank dan
rumah sakit setempat. Namun Onassis bukan ahli waris kekayaan ayahnya, dan ia menjadi
kaya karena kekayaan keluarganya. Seperti yang akan kita lihat, ia pergi ke Amerika Serikat
ketika terjadi pertikaian keluarga selagi ia berumur 17 tahun. Ia membawa bekal $450 dalam
sakunya, itu pun hanya $250 adalah uang dari keluarganya. Ayahnya dengan enggan
memberikan uang sebanyak itu yang baru diberikan pada saat akan terpisah, sebab ia tidak
setuju dengan kepergiannya. Ayah dan anak memang tidak pernah akrab, suatu hal yang
aneh di antara keluarga Yunani di tanah air. Ayah Onassis yang dibesarkan pada sebuah
pertanian dengan susah payah mengumpulkan kekayaan.
Wataknya sangat disiplin dan keras. Walaupun selalu sadar akan rasa tanggung-
jawab, ia bukanlah seorang yang dapat disebut hangat dan menarik.
Segera Onassis memberontak terhadap setiap bentuk disiplin. Sejak anak sampai
remaja ia banyak menimbulkan keributan dan geger, duri di mata ayahnya. Hubungan
mereka bertambah rumit lagi karena suatu kenyataan lain. Ibunya, Penelope, meninggal
ketika Onassis baru berumur enam tahun. Hanya 18 bulan sesudah itu ayahnya menikah lagi
dengan seorang wanita bernama Helen. Onassis memandang ibu tirinya sebagai orang lain
yang menyelundup, dan karenanya wanita ini tidak mendapat tempat sedikit pun di hatinya.
Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang
kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking
terbawah di kelasnya. Salah seorang gurunya berkata:
Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi gara guru dan keluarganya berputus asa.
Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang

di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-
gemilang.
Walaupun raport Ari di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan
mencari uang telah tampak sejak dini. Mungkin anekdot berikut dapat menerangkan. Salah
seorang temannya yang telah merancang sebuah kitiran kecil, sebuah mainan sederhana
yang terdiri atas baling-baling kertas berpasak jarum yang ditancapkan pada sepotong kayu.
Bangga atas prestasinya, anak itu dengan berani membuat beberapa buah dan mencoba
menjualnya.
“Mau kau jual berapa kitiranmu ini?” tanya Onassis. “Eh…saya tidak tahu.
Bagaimana kalau seharga jarum .
“Dasar bodoh!” bentak Onasiss. “Kau minta satu jarum sedang yang kau jual satu
jarum, tambah baling-baling, tambah kayu, belum lagi kau hitung waktu yang kau perlukan
untuk membuatnya.”
Teman Onassis mengambil kesimpulan: “Inilah pelajaran saya yang pertama tentang
arti keuntungan.” Pada waktu itu tidak terpikir olehnya bahwa ia sedang mendengarkan
pelajaran dari seorang jago uang masa mendatang. Sebuah kisah lain menggambarkan
bakat bisnis Onasis pada masa mudanya. Pada suatu hari, suatu kebakaran terjadi di gudang
sekolah di kota tempat kelahirannya. Onasiss membeli seonggok pinsil bekas kebakaran itu
dengan harga murah. Ia menanamkan sedikit modal dengan membeli dua ala peruncing
pinsil. Ia, berdua dengan temannya, mulai membersihkan bagian-bagian pinsil yang hangus.
Kemudian ia menjual pinsil-pinsil itu kembali kepada teman-teman di sekolah dengan harga
sangat murah, namun tetap memberikan untung cukup besar. Mungkin contoh ini biasa-biasa
saja, tetapi justru pekerjaan seperti inilah kelak bisnis besar Onassis. Ia memperbaiki kapal-
kapal laut yang rusak dan membuatnya layak melaut, dan menjualnya dengan harga yang
jauh lebih tinggi, tentu saja. Di sekolah, waktu berjalan terus, tetapi Onassis tidak bertambah
maju. Tahun 1922 mulai tidak menyenangkan. Banyak teman sekelasnya pergi untuk
menuntut ilmu di universitas-universitas besar di Eropa. Tetapi Onassis sendiri tidak lulus.
Masa depan tampak suram baginya. Beberapa hari setelah upacara penyerahan ijazah, salah
seorang temannya melihat Onassis berjalan tanpa tujuan di taman kota. Ia mencoba
menghibur hati Onassis.
“Jangan khawatir, Aristotle, kau lihat nanti, semua akan beres. Kau coba sekali lagi
tahun depan. Kau pasti lulus. “Goblok,” jawab Onassis. “Kau kira saya akan tinggal saja
selamanya di sini? Dunia ini sempit. Saya tidak perlu ijazah. Pada suatu hari kau akan heran
akan apa yang saya lakukan.” Waktu membuktikan bahwa omongan Onasis bukanlah lelucon
belaka.
Pada tahun 1922, invasi Turki menimbulkan bayangan gelap pada masa remaja
Onassis yang penuh gejolak. Smyrnba diduduki dan warga kota dibabat habis tanpa belas
kasih. Ayah Onassis, seorang tokoh yang terkenal luas, dipenjarakan dan Ari menjadi kepala
rumah tangga pada usia 16 tahun. Ini masa yang sulit baginya. Dan pada masa ini ia
menerapkan kehebatannya sebagai diplomat dan kemampuannya untuk bertahan dalam

keadaan apa pun. Masa yang sulit ini justru merupakan pengalaman yang tepat untuk
membentuk wataknya. Sesudah malapetaka Smyrna berlalu, Ari adalah Ari yang lain dari
sebelumnya. Segala sesuatu yang dialaminya tidak pernah hilang dari ingatannya; kenangan-
kenangan itu disertai suatu kesadaran akan kemampuannya untuk bertahan. Ia telah
mempertaruhkan diri dan menang. Dewi fortuna memihak pada kaum yang berani dan ia
pusatkan visinya tentang dunia atas pengetahuan tersebut.
Onasis yang memetik manfaat dari pendudukan Turki untuk berbisnis. Ia
menyelundupkan minuman keras ke Tentara Turki, dengan maksud merebut hati para
jenderal agar mau membebaskan ayahnya, yang bagaimana pun harus meringkuk dalam
penjara selama setahun.
Sukses Onassis sangat tergantung pada daya tarik pribadi dan kemampuannya
mengadakan hubungan dengan umum. Beberapa orang sebayanya menyebut dia si bunglon.
Memang ia pandai sekali menyesuaikan diri dengan semua orang yang dijumpainya. Pada
umumnya, kalau kita membuat apa-apa menjadi mudah bagi orang lain, mereka akan
bersimpati kepada kita, demikian pendapat Onassis.Pernah Onassis mengaku kepada
Winston Churchill salah seorang kenalannya yang berjabatan tinggi, yang pada waktu itu
sedang menjadi tamu di atas, kapalnya Christina, mengenai teori pribadinya tentang
“keharusan sejarah” yang tercipta pada masa sulit. Pengalamannya telah mengajar dia
bahwa bila alam memberikan suasana yang cocok dan makanan berlimpah, ia tidak
mempunyai banyak energi dan kurang berinisiatif. Sebaliknya, orang yang didesak-desak
“minggu” dan harus berjuang keras untuk tetap bertahan, dalam keadaan sulit akan lebih
mungkin mampu menyesuaikan diri dengan segala keadaan. Dengan demikian ia akan tetap
berhasil selagi orang lain mati karena adanya rancangan untuk bertahan. Demikianlah,
menurut Onassis, kesulitan dan kemelaratan sering kali mendorong orang untuk menemukan
sumber dayanya sendiri, yang tak diduga adanya sebelumnya, dan dengan demikian
membuat dia maju dengan mendobrak hambatan dan keterbatasan pribadinya. Kisah hidup
Onassis adalah sebuah gambaran yang baik sekali tentang prinsip tersebut. Socrates, ayah
Onassis, tidak mau mengakui jasa anaknya dalam peranan yang dimainkannya selama masa
pendudukan, dan tidak membiarkan dia meneruskan peranannya sebagai penanggung jawab
keluarga. Onassis sangat sakit sekali karena perlakuan ayahnya ini dan, menurut
pengakuannya, sampai berbulan-bulan sesudah itu sering kali dilanda rasa marah yang tanpa
daya. Sikap ayahnya tak berterima kasih dan berkesan disingkirkan dari keluarganya
memotivasi keputusannya untuk mencoba keberuntungannya di Amerika Selatan. Mula-mula,
tentu saja ia berpikir untuk pergi ke Amerika Serikat, tetapi mendapatkan visa tidaklah
mudah. Onassis mengalihkan perhatiannya ke Argentina: ia mendengar berita bahwa banyak
orang Yunani sudah menjadi kaya di sana.
Onassis mendarat di Buenos Aires pada tanggal 21 September 1923. Bawaannya
sebuah koper tua dan uang sebanyak $450. Tetapi di dalam dirinya ia membawa bekal yang
lebih berharga: tekad keras untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa ia mampu menjadi
kaya tanpa bantuan ayahnya. Rasa percaya diri ini akan dibawanya sepanjang hayatnya.

Tanpa diploma, tanpa pekerjaan, uang dan koneksi orang berpengaruh, Onassis
terpaksa mulai dengan melakukan aneka pekerjaan kasar. Ia menjadi kenek tukang batu, kuli
pengangkut bata pada suatu proyek pembangunan, tukang cuci piring di restoran, dan
akhirnya menjadi magang instalator listrik di River Plate United Telepchone Co. Bagi
seseorang dengan ego yang sehat seperti dia, ini bukan prestasi yang pantas.
Beberapa bulan sesudah memulai pekerjaan ini, Onassis minta dipindah ke giliran
malam, dengan dalih bahwa ia harus mengerjakan beberapa hal di siang hari. Dengan
ambisinya yang besar, Onassis tidak berniat menghabiskan banyak waktu untuk belajar
menyolder kabel.
Pada masa itu, tembakau Yunani terkenal baik, bahkan diklasifikasikan di antara
tembakau-tembakau paling enak oleh para ahli. Namun, karena masalah pengimporan dan
penyediaan, barang ini menjadi sukar didapat. Onassis menulis kepada ayahnya minta
kiriman. Socrates setuju dan mengapalkan kiriman pertama sebagai sampel. Mula-mula
hasilnya tidak menggembirakan. Onassis membawa sampelnya ke beberapa pabrik, dan
minta agar ia dihubungi.
Beberapa minggu berlalu tanpa berita. Kini Onassis mengerti bahwa seharusnya
tidak membuang-buang waktu dengan mendatangi pabrik-pabrik kecil, tetapi harus datang ke
yang besar sekalian. Untuk itu ia harus menemui Juan Gaona, kepada salah satu firma
tembakau terbesar di Argentina. Selama 15 hari berturut-turut, Onassis tampak bersandar
pada dinding gedung Gaona, untuk mengamati datang dan perginya bos itu. Akhirnya Gaona
merasa tergoda juga oleh perilaku orang muda ini, dan ia mengundang Onassis ke
kantornya. Onassis menyampaikan tawarannya dengan sebaik-baiknya. Gaona rupanya
terkesan dan Onassis disuruh menghadap manajer persediaannya. Dengan memanfaatkan
nama Gaona, Onassis berhasil membujuk orang itu untuk meneken kontrak pembelian
tembakau seharga $10.000 dengan komisi biasa sebesar lima persen. Kelak, Onassis sering
menyatakan bahwa uang komisinya yang sebesar $500 itu merupakan batu sendi
kekayaannya besar. Ia tidak menggunakan uang itu untuk apa-apa, tetapi menabungnya di
bank untuk jaga-jaga, ibarat sedia payung sebelum hujan. Dengan sikapnya yang hemat dan
bijak, Onassis mencukupi hidupnya dengan hasil yang diperolehnya di perusahaan telepon,
dan semua uang yang tersisa disimpannya, sehingga ia dapat terjun ke dunia bisnis tanpa
meminjam uang kepada siapa pun.
Onassis kadang-kadang terpaksa berutang sementara menunggu pembayaran dari
pelanggan. Tetapi ia jarang meminjam lebih dari $3.000 dan selalu melunasinya secepat
mungkin. Kelak, tentu saja, setelah menemukan gunanya uang Orang Lain (UOL), suatu hal
yang akan kita bicarakan nanti, Onassis akan meneken kontrak pinjaman sampai sebesar
beberapa juta dolar, dengan jadwal pengembalian sesudah beberapa tahun. Tetapi, adalah
satu prinsip utama bila orang memulai suatu bisnis adalah mengembalikan utang secepat
mungkin. Onassis membangun kepercayaan beberapa bank kepadanya: suatu hal yang akan
sangat dia butuhkan pada tahun-tahun mendatang.

Setelah bekerja pada giliran malam selama setahun, Onassis minta keluar dari
United Telephone, dengan menyatakan bahwa ada suatu gagasan yang akan diikutinya.
Impian barunya ialah membuat pabrik rokok. Untuk itu ia mempunyai modal $25.000 hasil
tabungannya dengan tambahan pinjaman dari bank sebanyak itu pula. Kepercayaan bank
sudah mulai tampak manfaatnya. Ia mempekerjakan 30 orang imigran Yunani. Usahanya
dengan cepat bertambah besar tetapi tidak memberikan keuntungan yang diharapkanya.
Segera Onassis menutup usahanya. Wirausahanya yang pertama gagal. Onassis tidak
kehilangan semangat. Bahkan sebaliknya. Ia bertambah gigih. Sementara itu bisnis import
tembakaunya masih tetap berjalan dengan keuntungan lumayan.
Selama musim panas tahun 1929, pemerintah Yunani menaikkan pajak dalam
beberapa bidang, termasuk untuk tembakau. Onassis memutuskan untuk menggunakan
kesempatan ini untuk kembali ke Yunani untuk mencoba mendekati pihak yang berwenang.
Mula-mula Menteri yang bersedia menerima dia memperhatikan kukunya sendiri daripada
mendengarkan permintaan pedagang muda itu. Akhirnya ia potong kata-kata Onassis dan
tiba-tiba saja ingin menghentikan pembicaraan itu.
Onasis sangat. Ia menjawab:
Terima kasih. Kalau kita kapan-kapan bertemu lagi, saya harap Anda lebih tertarik
akan tawaran saya. Saya pikir Anda mempunyai banyak pekerjaan, tetapi tampaknya kuku-
kuku jari Anda sudah cukup menyibukkan. Tangan Anda rupanya lebih penting daripada
ekspor negeri kita.
Kata-kata onassis ternyata mengena. Sang Menteri tampak terkesan, dan ia mulai
berbicara secara serius dengan Onassis. Sesudah itu, negosiasi antara Yunani dan Argentina
di buka kembali.
Akhir tahun 1922 menandai suatu keputusan besar bagi kehidupan Onassis.
Kegagalan pertamanya sebagai pemilik kapal tidak membuat ia mundur untuk tetap
menanamkan uang dalam sektor itu. Ia sudah gandrung akan perkapalan. Ia tergerak oleh
keyakinan batin bahwa kapal sajalah yang akan membawa dia ke jenjang sukses. Maka,
dikumpulkannya semua uang miliknya, yang waktu itu sudah lumayan, lalu berangkat ke
London. Ia baru berusia 26 tahun. Ia telah dikenal karena reputasinya sebagai seorang
usahawan yang berani, apalagi setelah penunjukannya sebagai Konsul Jenderal Yunani di
Buenos Aires. Namun fungsi diplomatik ini tidaklah menyita banyak waktunya.
Pasar, yang menderita berat akibat jatuhnya pasar modal Wall Street tahun 1929,
memberikan kesempatan baik bagi para penanam modal. Kapal-kapal menjadi murah, jauh di
bawah harga semula. Langkah paling baik adalah membeli kapal-kapal berusia 10 tahunan.
Kapal sebesar sembilan ton yang semula harganya $1.000.000, kini hanya laku dijual
$20.000, kira-kira seharga sebuah Rolls-Royce. Apa yang dilakukan Onassis selagi masih
kanak-kanak kini akan terulang, tetapi barang bekasnya adalah kapal.
Walaupun kini bisnisnya di London. Onassis membeli kapal pertamanya, dua buah
kapal tua masing-masing seharga $20.000, di Montreal. Kedua kapal yang bernama Miller
dan Spinner, diganti namanya menjadi Onassis Socrates dan Onassis Penelope, sebagai

tanda penghormatan kepada kedua orang tuanya. Untuk mendapatkan untung dalam bisnis
perkapalan, pentinglah memperhatikan turun naiknya biaya muatan dan membuat keputusan
yang tepat. Onassis mampu dalam hal ini.
Lebih dari itu, ia seorang optimis yang tak pernah mundur. Dengan sifat petualang
dan keberaniannya, ia segera menonjol di antara pemilik-pemilik kapal Yunani lain yang
berpangkalan di London, karena tidak seperti mereka, ia tidak mempunyai pemikiran tentang
krisis ekonomi. Mereka, ia tidak takut menanamkan uangnya.
Kegesitan dan diplomasi bawaannya dengan cepat mengantar dia ke kalangan
masyarakat kelas tinggi. Tidak boleh dilupakan, salah satu pelicin jalan dalam kenaikannya
ke kelas elit adalah hubungan dengan salah satu wanita simpanannya yang pertama, si
cantik dari Norwegia Ingeborg Dedichen, putri seorang pemilik kapal yang terkenal.
Sifat lain yang memudahkan jalan Onassis adalah kemampuannya mendengarkan
orang. Memang, keluwesan dan kefasihan bicara memainkan peranan penting dalam
membujuk orang dan mendesak orang agar menerima gagasan kita serta kita sendiri. Tetapi
tidak banyaklah orang yang tahu benar cara mendengarkan orang lain. Kebanyakan orang
kaya dalam buku ini telah belajar keahlian tersebut, sehingga mereka tidak hanya selalu
mengerti apa yang diketahui oleh lawan bicaranya, tetapi juga menyesuaikan diri dengan
mereka. Demikianlah, agar mampu mempengaruhi orang dan mendapat jaminan bahwa
mereka akan menolong dalam perjalanan menuju sukses, orang harus mulai dengan
mengetahui siapakah orang yang dihadapinya. Onassis adalah seorang pakar dalam
keahlian mendengarkan. Lord Moran, yang menulis buku The Great Onassis, mungkin
karena dia sendiri tidak menggunakan keahlian ini, tidk menyebut-nyebut kemampuan
Onassis untuk mendengarkan orang lain. Padahal semua orang yang pernah berhubungan
dengan Onassis terkesan oleh kelebihan ini. Bila mereka berhadapan dengan Onassis, ia
memberikan kesan bahwa mereka adalah manusia paling penting di dunia.
Karena kemampuan ini, Onassis sebenarnya bisa menjadi ahli politik yang baik.
Bakat ini dimanfaatkan benar oleh Onassis, seperti disaksikan oleh si cantik dari Norwegia
dalam buku catatannya:
Lelaki muda penuh pesona yang dapat menyesuaikan diri dengan segala keadaan
ini meniru orang yang menjadi lawan bicaranya dengan begitu sempurna. Ada sementara
orang yang menafsirkan kemahiran ini sebagai kecerdikan, orang lain menyebutnya sebagai
kemunafikan dan menganggapnya kepandaian membunglon belaka. Tetapi saya percaya
kepandaian mendengarkan adalah suatu cara khusus memberikan perhatian tulus kepada
orang lain dan seluruh dunia. Kebetulan, selama hidupnya Onassis mempunyai rasa haus
yang tak terpuaskan akan pengetahuan di samping daya ingatnya yang kuat. Ia mempunyai
daya konsentrasi yang telah sangat berkembang.
Kemampuan mendengarkan orang lain adalah salah satu ciri khas yang vital bagi
setiap salesman yang baik. Itulah sebabnya Onassis adalah seorang salesman yang luar
biasa. Walter Saunders, yang jelas bukan seorang yang naif karena dia adalah penasihat
pajak bagi metropolitan Life, menggambarkan kesannya tentang pemilik kapal Yunani ini:

Ada perasaan pada diri saya bahwa orang yang penuh semangat ini mampu menjual
alat pendingin kepada orang Eskimo. Tetapi saya pun berperan bahwa setiap detail sudah
dipersiapkan secara tuntas sebelumnya. Kebanyakan orang yang bertemu dengan Onassis
merasakan pengaruh daya persuasifnya dan merasa bahwa Onassis tidak berimprovisasi
dalam langkah-langkahnya, tetapi sudah mengetahui segala sesuatu dalam berkas
catatannya sampai ke detail-detailnya.
Pada penghujung tahun 1947, Onassis melewati ambang lain dalam kariernya yang
gemilang. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia akan mulai secara sistematis menerapkan
prinsip yang dikenal sebagai OPM (Other People’s Money, Uang Orang Lain UOL), dengan
meminjam kepada Metropolitan Life Insurance Company sebesar $40 juta untuk membangun
kapal-kapal baru. Sebagai siasat ia menggunakan sebuah perusahaan minyak sebagai mitra.
Onassis akan mengangkut minyak mereka dan kontraknya akan tetap berlaku sampai
habisnya batas waktu utang. Karena perusahaan minyak pada waktu itu sangat terandalkan,
meminjam atas nama perusahaan itu sangat mudah. Dalam arti tertentu, badan keuangan
meminjamkan uang kepada perusahaan minyak, bukan kepada Onassis. Onassis sering
mengingat masa itu dengan berbangga diri. Dikatakannya bahwa perusahaan minyak yang
kaya itu dalam hubungan dengan kapal-kapal Onassis adalah ibarat seorang penyewa
dengan rumah yang dihuninya dengan membayar uang sewa. Kalau yang menyewa adalah
Rockefeller, tidak menjadi soal apakah atapnya bocor atau bergenting emas. Kalau
Rockefeller menyanggupi membayar uang sewanya, siapa saja bersedia memberikan
pinjaman untuk mengurusi rumah itu. Keadaan itu berlaku pula untuk kapal-kapal Onasssis.
Prinsip ini sekarang lumrah sekali. Prinsip inilah dasar segala investasi
pembangunan real-estate. Bila seorang meminjam uang untuk suatu bangunan bisnis, bank
sebenarnya meminjamkan uangnya kepada penyewa bangunan itu. Merekalah yang akan
mengembalikan uangnya, terkecuali bangunan itu milik seorang penanam modal. Prinsip ini
pada zaman Onassis tergolong revolusioner, dan keorisinal gagasan Onassis patut dipuji
karena sebagian besar pemilik kapal Yunnai pada waktu itu berpegang pada prinsip: Mau
dapat kapal, bayar uang kontan.
Walaupun ia seorang inovator sejauh ia tidak menggunakan metode-metode para
pesaingnya, ia bukanlah penemu OPM, walaupun mungkin ia menyatakan begitu. Konsep ini
lahir dari otak Daniel Ludwig, seorang usahawan Amerika yang kaya. Dia telah mulai
menanamkan uang dalam kapal armadanya bahkan jauh lebih unggul daripada milik Onassis
dan kemudian beralih ke usaha real estate. Sudah sejak tahun 1930-an Ludwig
mengembangkan apa yang kelak menjadi praktek biasa di mana-mana. Gagasan itu muncul
dalam benaknya setelah sebuah Bank menolak permintaannya untuk meminjam uang yang
akan digunakannya untuk membeli kapal dan merombaknya menjadi kapal tangki. Onassis
meninggal pada tanggal 15 Maret 1975, tapi dalam menjelang akhir hayatnya ia minta
kepada salah satu akuntannya apakah ia dapat mengatakan besarnya keuntungan yang
dimilikinya secara cepat dengan pembulatan ke angka sepuluh dolar.

1 komentar:

  1. Blog yang bagus... semoga terus berkembang... Saya ingin berbagi wawancara dengan Maria Callas (imajiner) artikel di http://stenote-berkata.blogspot.hk/2017/11/wawancara-dengan-maria.html

    BalasHapus