Minggu, 15 Januari 2012

ABDULLAH GYMNASTIAR (AA GYM)

Sosok kyai muda ini sering kali muncul di acara televisi secara langsung yang selalu dihadiri
oleh ribuan massa menjadi ciri khas dan fenomena tersendiri. Beliau adalah K.H. Abdullah
Gymnastiar atau biasa dipanggil Aa Gym, pimpinan pesantren Daarut Tauhid Bandung. Aa
Gym memulai pendidikan formal awal di SD Damar sebuah SD swasta yang kini sudah
dibubarkan. Sekolah ini cukup jauh dari rumahnya, sekitar tiga kilometer. Masa itu, pilihan
satu-satunya ke sekolah adalah berjalan kaki. Menjelang naik ke kelas 3 SD, pindah ke
KPAD Gegerkalong. Aa Gym pun pindah sekolah ke SD Sukarasa 3. Bakat saya mulai
berkembang dan nilai prestasi sekolah pun cukup bagus. Terbukti ketika tamat, beliau terpilih
menjadi ranking terbaik II di sekolah dengan selisih satu nilai saja dibandingkan ranking I. Di
bidang seni, bakat beliau juga berkembang, seperti menggambar dan menyanyi. Sejak itu
pula Aa Gym sering ditunjuk menjadi ketua kelas dan aktif dalam gerakan Pramuka. Jiwa
dagang Aa Gym sudah terbentuk sejak TK, terbawa-bawa hingga di Sekolah Dasar.
Misalnya, beliau pernah menjual petasan yang memang pada waktu itu belum dilarang
seperti sekarang. Alhasil, beliau pernah mendapat teguran dan pengurus DKM masjid.
Namun, pada waktu itu beliau belum begitu mengerti ilmu agama dengan baik. Setelah lulus
SMA dan memasuki kuliah Aa Gym tidak lulus tes Sipenmaru. Aa Gym mencoba daftar ke
Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP) Universitas Padjadjaran, yaitu sebuah
program D3 di Fakultas Ekonomi. Alhamdulillah beliau diterima. Namun, kuliah di sini hanya
bertahan selama tahun. Beliau lebih sibuk berbisnis daripada mengikuti kuliah. Teman-teman
kuliah pun lebih mengenal beliau sebagai “tukang dagang”. Selepas PAAP, beliau masuk ke
Akademi Tekhnik Jenderal Abmad Yani (ATA, sekarang Unjani). Kampusnya waktu itu sangat
sederhana karena menumpang di SD Widyawan atau kadang di PUSDIKJAS. Maklum,
karena pemiliknya adalah Yayasan Kartika Eka Paksi milik Angkatan Darat. Selama kuliah di
ATA, beliau mengontrak sebuah kamar di pinggir sawah karena benar-benar ingin melatih
hidup mandiri. Soal prestasi, banyak yang telah diraih. Beliau mengikuti lomba menggambar,

mencipta lagu, baca puisi, sampai lomba pidato. Allhamdulillah, beliau selalu meraih juara,
walaupun yang mengadakannya adalah senat mahasiswa dan kebetulan beliau sendirilah
ketuanya. Selain menjadi ketua senat, beliau juga menjadi komandan resimen mahasiswa
(Mlenwa) di ATA, maklumlah saingan di kala itu sedikit. Kegiatan berbisnis masa kuliah juga
semakin menggebu. Beliau pernah membuat usaha keset dan perca kain. Beliau juga jadi
penjual baterai dan film kamera kalau ada acara wisuda. Aa Gym juga sempat menjadi supir
angkot jurusan Cibeber-Cimahi sekedar menambah pemasukan. Inti dari semua ini, memang
Aa Gym sangat senang untuk membiayai kebutuhan sendiri tanpa menjadi beban siapa pun.
Selain itu, beliau juga melatih diri untuk tidak dibelenggu oleh gengsi dan atribut pengekang
lainnya. Aa Gym telah menyelesaikan program sarjana muda di ATA walaupun belum
mengikuti ujian negara. Berarti, beliau memang tak berhak menyandang gelar apa pun.
Bahkan, sampai saat ini ijazahnya pun belum beliau ambil dari kampus. Memang sesudah itu
ada upaya untuk melanjutkan kuliah sampai S1, terutama karena dorongan teman-teman dan
beberapa dosen yang baik hati. Beberapa kegiatan perkuliahan pun diikuti. Akan tetapi,
setelah menelusuri hati, ternyata hanya sekedar untuk mencari status belaka, dan hal itu tak
cukup kuat untuk memotivasi menyelesaikan kuliah. Mungkin hikmahnya untuk memotivasi
orang yang belum dan tak punya gelar agar tetap optimis untuk maju dan sukses.
Untuk menyempurnakan ibadah dan melaksanakan sunnah, Aa Gym pun menikah. Tepat
dua belas Rabiul Awal tahun 1987 adalah salah satu titik sejarah bagi kehidupan beliau
dengan diucapkannya ijab kabul. Gadis yang menjadi pilihan beliau adalah Ninih
Muthmainnah. Pernikahan yang dilaksanakan di Pesantren Kalangsari, Cijulang,ini dihadiri
oleh banyak ulama karena memang berada di lingkungan pesantren. Beliau menikah dengan
resepsi ala kadarnya. Bahkan, untuk menghemat jamuan bagi tamu, digunakan niru
(nampan) sehingga satu niru bisa menjamu 8 orang sesudah menikah, kami tinggal di rumah
orang tua di Kompleks Perumahan Angkatan Darat (KPAD) Gegerkalong, Bandung. Aa Gym
bertekad untuk memberi nafkah kepada keluarga dengan uang yang jelas kehalalannya.
Jelas tak mungkin rumah tangga akan berkah dan bahagia jika ada makanan atau harta
haram yang dimiliki. Untuk itu, beliau mulai merintis usaha kecil-kecilan. Usaha-usaha yang
beliau rintis antara lain :
1. Buku. Setiap pagi beliau berjualan buku di Masjid al-Furqon, IMP Bandung. Sambil
belajar tafsir dan ilmu hadits di sana, beliau memikul kardus berisi buku-buku agama untuk
dijual. Jadi, sambil menuntut ilmu juga mencari rezeki. Alhamdulillah, usaha kecil inilah yang
menjadi cikal bakal toko buku dan sekarang berkembang menjadi supermarket yang saat ini
sudah dikelola dan diserahkan kepada Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Daarut
Tauhid.
2. Handicraft. Sambil mengajar di madrasah KPAD, beliau membuat hasil kerajinan
bersama anak-anak pada sore harinya. Usaha ini terus berkembang hingga bisa membeli
mesin gergaji. Sejak itu kami banyak menerima order plang nama serta order sablonan. Dari
usaha sederhana inilah kemudian berkembang menjadi usaha percetakan dan penerbitan
buku. Subhanallah, benar-benar semuanya dimulai dari hal yang kecil.

3. Konveksi. Mengingat istri beliau punya keterampilan menjahit, maka untuk menambah
penghasilan keluarga, beliau menabung agar bisa membeli mesin jahit bekas. Alhamdulillah,
order jahitan berkembang dan bisa mengajak beberapa muslimah untuk ikut bergabung.
Kadang seminggu sekali kami berbelanja untuk membeli kain yang dijual kiloan.. Dari
kegiatan dan perjuangan inilah cikal bakal lahirnya usaha konveksi.
4. Mie Baso. Menjual mie baso, inilah pekerjaan yang paling mengesankan. Beliau
mengelola usaha warung baso kecil-kedilan di Perumnas Sarijadi, bekerja sama dengan
pamannya selaku pemilik rumah. Setiap pukul empat subuh beliau sudah pergi ke Pasar
Sederhana untuk mencari tulang karena kuah yang enak harus dicampur dengan sumsum
tulang. Aktivitas berikutnya dilanjutkan dengan menggiling daging untuk bahan baso, dan
pukul sembilan pagi beliau baru bisa melayani pembeli. Karena beliau tak mau ketinggalan
shalat berjamaah, setiap kali adzan, warung baso beliau tinggalkan. Beliau pergi shalat
berjamaah di sebuah masjid yang letaknya agak jauh dari warung, sementara pembeli beliau
tinggalkan dan dipersilahkan memasukkan uang bayarannya ke tempatnya. Memang
tampaknya seperti mengajak pada kejujuran, tapi hasilnya pembeli banyak yang bingung
justru yang sering datang adalah yang mau berkonsultasi. Akibatnya, tak jarang saya baru
bisa pulang ke rumah sekitar jam sembilan malam. Lelah sekali rasanya sementara hasilnya
pun tak seberapa. Rupanya masyarakat tak terbiasa dengan cara baru ini. Belum lagi badan
yang selalu bau baso karena seharian bergulat dengan baso. Yang menyedihkan, ternyata
istri agak mual dan kurang suka mencium bau baso. Akhirnya, tutuplah warung baso ini
dengan segudang pengalamannya.
Menurut Aa Gym seorang wirausahawan sejati sangat dipengaruhi oleh masa kecilnya.
Kalau masa kecilnya selalu dimanja, selalu dimudahkan urusan, selalu ditolong, maka
bersiap-siaplah menuai anak yang tidak berdaya. Oleh karena itu, bagi yang masih muda
jangan bercita-cita melamar pekerjaan, tapi berpikirlah untuk menjadi wirausahawan. Dan
bagi orang tua, tanamkan kepada anak-anak kita jiwa wirausaha sejak dini. Didik anak-anak
agar mandiri sejak kecil. Latih anak-anak kita untuk selalu bertanggung jawab terhadap apa
yang dia lakukan. Orang tua yang memanjakan anak-anak mereka dengan memberikan
segala keinginannya maka akibatnya akan kembali juga kepada orang tua. Beliau pun
sempat berjualan semenjak di bangku TK dengan menjual jambu tetangga. Begitu juga ketika
di bangku SD dan SMP. Dengan demikian, ketika selesai kuliah, sudah hafal bagaimana cara
“bangkrut efektif”, bagaimana “tertipu optimal”, dan bagaimana usaha bisa remuk. Selesai
kuliah, ijazah tidak diambil sehingga sampai sekarang saya tidak tahu ijazah saya seperti
apa. Namun, dengan izin Allah tidak kurang rezeki sampai sekarang. Mencoba mengurus
pesantren dengan jiwa wirausaha jadilah pesantren Daarut Tauhid seperti sekarang ini. Hal
ini benar-benar membuat sebuah keyakinan bahwa jikalau jiwa kewirausahaan tertanam
sejak awal pada diri kita, kita tidak akan pernah takut dengan apa pun. Karena itu, kalau saja
bangsa ini dikelola oleh orang-orang yang berjiwa wirausaha, tidak ada satu pun yang perlu
kita takuti dan krisis ini. Hal yang paling tak enak didengar beliau adalah kalau ada yang
bertanya, “Berapa sih tarifnva kalau manggil Aa Gym ceramah?” Duh, rasanya sedih sekali

dengan pertanyaan seperti itu. Alhamdulillah, bagi beliau berdakwah adalah panggilan
kewajiban atas amanah ilmu yang ada. Bisa menyampaikan ilmu saja sudah merupakan
rezeki yang luar biasa. Kalaupun ada yang berterima kasih, itu karunia Allah yang tak
diharapkan, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi banyak pihak. Itulah sebabnya beliau
berusaha sekuat tenaga agar memiliki penghasilan sendiri. Apalagi sesudah regenerasi di
Yayasan Daarut Tauhid sehingga beliau lebih leluasa dan sungguh-sungguh untuk
membangun MQ Corporation, usaha pribadi yang beliau harapkan menjadi sumber rezeki
yang halal serta mencukupi untuk keluarga dan biaya dakwah, sehingga dapat menghindari
fitnah dan tak menjadi beban bagi umat. Selain itu juga bisa membuktikan bahwa bisnis
berbasis moral sangat memungkinkan untuk maju, bermutu, dan bermanfaat banyak. Hal ini
juga menjadi laboratorium saya untuk berlatih mengelola bisnis yang profesional sebagai
bahan untuk berdakwah dan tentunya juga membuat lapangan kerja yang lebih luas bagi
masyarakat, khususnya para tetangga, kaum dhuafa, dan orang-orang cacat. Bagi beliau
usaha yang ditekuni adalah sarana bagi teman-teman yang memiliki rezeki berlebih dan ingin
usaha yang halal dan maslahat, untuk bergabung dalam sistem bagi hasil. Oleh karena itu,
dan setiap keuntungan, selain disisihkan untuk zakatnya juga dikeluarkan biaya pendidikan
bagi saudara kita yang dhuafa agar bisa maju bersama-sama. Alhamdulillah dengan
didukung oleh tim yang berakhlak baik, konflik menjadi minimal dan kebocoran pun nyaris
nihil. Bahkan, sesudah kemampuan pengelolanya dikembangkan, kinerja perusahaan kian
baik dan professional. Dulu beliau berpikir pas-pasan, yaitu pas butuh ada. Tapi kini beliau
berpikir sebaliknya. Beliau ingin menjadi orang kaya yang melimpah rezekinya serta halal dan
berkah. Mudah-mudahan menjadi contoh bagi orang yang mau kaya dengan tetap taat
kepada Allah. Dan juga supaya orang tak memandang sebelah mata karena menganggap
kita butuh terhadap kekayaan mereka. Di samping itu juga diharapkan bisa sedikitnya
memberi contoh bagaimana memanfaatkan kekayaan di jalan Allah. Semoga terpelihara dari
fitnah dunia karena memang luas dunia ini amat menggoda dan melalaikan.
Kebanyakan orang selalu meributkan modal berupa finansial, padahal menurut beliau
modal itu adalah: Pertama, keyakinan kepada janji dan jaminan Allah. Kedua, kegigihan
meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Ketiga, menjadi orang yang terpercaya
(kredibel). Kredibel berarti sikap yang selalu jujur dan terpercaya, selalu berusaha melakukan
yang terbaik dan memuaskan, serta selalu berusaha mengembangkan ilmu, pengalaman,
wawasan, sehingga bisa tampil kreatif, inovatif dan solutif. Percayalah bahwa sebelum kita
lahir, rezeki sudah lengkap disiapkan oleh Allah Yang Mahakaya. Kita hanya disuruh
menjemputnya, bukan mencarinya. Yang harus diperoleh justru keberkahan dari jatah kita.
Dan semua itu akan datang kalau kita bekerja di jalan yang diridhoi oleh Allah Swt. Adapun
keuntungan bukan hanya berupa uang, harta, kedudukan, atau aksesoris duniawi lainnya.
Bagi beliau, keuntungan itu adalah ketika bisnis yang dilakukan ada di jalan Allah, bisnis kita
jadi amal shaleh yang disukai Allah, dan menjadi jalan mendekat kepada-Nya. Nama baik kita
terjaga, bahkan menjadi personal guarantie. Dengan bisnis kita bertambah ilmu, pengalaman,
dan wawasan, dengan bisnis bertambahnya saudara dan tersambungnya silaturahmi, dan

dengan bisnis kita semakin banyak orang yang merasa beruntung.
Jadi, walaupun keuntungan finansial tak seberapa didapat atau bahkan tak
mendapatkannya, apabila keuntungan seperti di atas sudah didapatkan, beliau tetap merasa
sangat beruntung. Beliau yakin pada saatnya Allah akan memberikan keuntungan dunia yang
sesuai dengan waktu dan jumlahnya dengan kadar kebutuhan dan kekuatan iman beliau.
Berbisnis bagi Aa Gym bukan sekedar urusan duniawi. Jika bisnis dijalankan dengan
cara yang salah hanya akan melahirkan kerakusan dan ketamakkan manusia. Sebaliknya
bisnis yang dijalankan dengan niat dan cara yang benar adalah ibadah yang besar sekali
pahalanya, karena dengan mengokohkan harga diri bangsa. Seperti disampaikan beliau
dalam sebuah kesempatan, bahwa perekonomian yang kuat akan berimbas pada tingkat
kesehatan yang baik, sehingga akan meningkatkan kemampuan untuk berkarya dengan
mengakses ilmu lebih banyak, hingga melahirkan sebuah bangsa yang cerdas.
Visi Aa Gym dalam membantu Pesantren Daarut Tauhid sekaligus dengan beragam
kegiatan bisnisnya, tidak lepas dari konsep dasar pendidikan di pesantren ini menyatukan
antara dimensi dzikir, fikir dan ikhtiar. Dimensi dzikir ini sangat menekankan pada keikhlasan
dan penyerahan diri kepada Tuhan. Hal ini merupakan sisi penyeimbang hidup, dimana kita
dituntut untuk senantiasa menyempatkan waktu, untuk berkontemplasi dan menjadikan setiap
detik kehidupan kita bergantung kepada Tuhan. Dimensi fikir menegaskan pentingnya
rasionalitas dalam setiap tindakan kesehatian kita, sehingga setiap langkah merupakan
bagian dari perencanaan yang matang. Sementara dimensi ikhtiar menunjukkan pentingnya
etos kerja, melalui hidup penuh kesungguhnya dan kerja keras tanpa kenal putus asa. Ketika
dimensi tersebut jika dilakukan secara sinergis akan melahirkan pribadi yang unggul dan
tangguh dengan tetap dilandasi oleh nilai kearifan.
Kunci kesuksesan Aa Gym dalam menjalankan roda bisnis di pesantrennya, hingga
telah berkembang menjadi 24 bidang usaha dalam 12 tahun, terletak pada pembangunan
kredibilitas para pengelolanya yang meliputi tiga aspek utama yaitu, nilai kejujuran,
kecakapan (profesionalisme), dan inovatif. Nilai kejujuran yang diajarkan meliputi ketepatan
dalam menepati janji, manajemen waktu, memiliki fakta dan data yang jelas, terbuka,
kemampuan mengevaluasi, rasa tanggung jawab dan pantang putus asa.
Kecakapan dalam berbisnis ini selain diperlukan pendidikan yang penting juga
adalah pelatihan nyata. Seperti ditulis oleh Syafi’i Antonio dalam artikelnya yang
menceritakan tentang riwayat Rasulullah yang telah mendapat pendidikan entrepreneurship
sejak usia 12 tahun, ketika bersama pamannya Abu Thalib melakukan perjalanan bisnis.
Pada usia 17 tahun Beliau telah diberi tanggung jawab untuk mengurus seluruh bisnis
pamannya, dan mulai merasakan persaingan dengan para pedagang yang lebih professional.
Menginjak usia 25 tahun Beliau mendapatkan dukungan finansial dari konglomerat setempat
Siti Khadijah yang kemudian menjadi istri Beliau.
Nilai yang ketika yang dikembangkan Daarut Tauhid yang juga dikenal dengan
bengkel akhlak ini adalah inovatif. Beberapa aspek pendidikannya antara lain melatih jiwa
progressive, dengan menjadikan perubahan ke arah yang lebih baik sebagai kewajiban

massal, mengadakan studi banding, melakukan pelatihan-pelatihan dan senantiasa
memberikan rangsangan untuk melahirkan sikap kreatif dan inovatif.
Ketiga nilai tersebut telah dilakukan secara integral di Daarut Tauhid. Bisnis bagi Aa
Gym akan terasa hambar jika nilai-nilai moral dikesampingkan, hanya akan menjadi materi
sebagai dewa yang dikejar dan diagung-agungkan, dan akhirnya akan melahirkan jiwa-jiwa
Brutus di setiap pelaku bisnis.
Aspek-aspek modal dalam bisnis sebetulnya telah diajarkan oleh Rasul jauh 15 abad
yang lalu, lewat sifat-sifat kerasulan yang dimiliki Beliau yaitu sidiq (benar), amanah
(terpercaya), fathonah (cerdas) dan tabligh (komunikasi). Nilai-nilai moral ini bersifat general
truth, melintasi batas waktu, agama dan budaya. Jika disinergikan dengan strategi bisnis
yang tepat akan mampu membangun kepercayaan konsumen yang kuat. Kepercayaan
konsumen ini merupakan aset yang tidak ternilai.
Kepemimpinan yang berkembang umum di kalangan pesantren pada umumnya
masih tradisional, kyai sentries, komando tunggal, dan iklim demokrasi kurang berkembang
sehingga seringkali timbul blind faith di kalangan santri. Fungsi manajemen yang dijalankan
pun kurang mendapat sentuhan bahkan cenderung diabaikan. Pola kepemimpinan Darut
Tauhid tidak lagi menempatkan figur sebagai sentral. Aa Gym sebagai pemimpin pesantren
hadir hanya karena nilai khusus yang dimilikinya. Meminjam istilah Max Webber, pola
kepemimpinan yang lahir seperti ini karena otoritas karismatik. Kepemimpinan di Daarut
Tauhid telah menerapkan system pendelegasian kerja, sebagai pengalihan wewenang formal
manajer kepada bawahannya. Pemimpin diajarkan untuk memiliki sikap rendah hati dan mau
melayani, seperti pernah dikemukakan oleh A.M. Mangunhardjana SJ. Bahwa pada intinya
pemimpin adalah tugas pengabdian mereka menjalankan the golden rule of leadership yaitu
knows the way, shows the way and goes the way. Dari sisi manajemen Daarut Tauhiid telah
menerapkan system lebih dari hanya sekedar menerapkan sistem manajemen modern.
Dimana sistem manajemen modern. Dimana sistem manajemen yang berkembang saat ini
tidak menjadikan manusia hanya objek pelaku agar materi dan kapital semakin produktif, tapi
juga telah melahirkan aspek-aspek spiritual dan emosi dalam pemikiran manusia. Covey
sendiri dalam hal ini telah melakukan terobosan baru dengan mengemukakan gagasannya
tentang manajemen berbasis kepentingan yang kental dengan nuansa religius.
Daarut Tauhid sendiri menerapkan inti manajemen dan kepemimpinan sekaligus
dalam konsep Manajemen Qolbu (MQ) yang ditawarkannya. Dalam MQ hati adalah fakultas
utama dalam diri manusia yang sangat menentukan kualitas manusia itu sendiri, jika
dimanajemeni dan dipimpin dengan benar akan melahirkan manusia paripurna dalam
kehidupan dunia dan akhirat.
Dalam kesehariannya Daarut Tauhid tidak pernah merengek-rengek meminta
sumbangan, apalagi dengan menjaring dana di pinggir jalan. Dilihat dari fasilitas dan asset
Daarut Tauhid termasuk pesantren yang maju dalam waktu singkat. DT pada awalnya hanya
dikenal sebagai bengkel akhlak tetapi sekarang lebih menonjol di bidang ekonomi. “Memang
kami memiliki strategi tersendiri, oleh karena itu visi dan misi Daarut Tauhid sendiri harus

dikenali dahulu. Secara garis besar kami ingin membentuk SDM yang memiliki keunggulan
dalam zikir, fikir dan ikhtiar, suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” demikian penuturan
Abdullah Gymnastiar.
Dzikir, fikir dan ikhtiar ini merupakan konsep dasar dari MQ yang diajarkan sehari-
hari melalui hal-hal kecil. Untuk menerapkan Daarut Tauhid sendiri memiliki lima aturan dasar
pelatihan kepada para santrinya yang juga merupakan bagian dari roda perekonomian Daarut
Tauhid. Pertama, seorang santri dilatih untuk berfikir keras, mengenal diri dan potensinya
sehingga ia mampu mengenal kekurangan diri lalu memperbaikinya dan menempat dirinya
secara optimal. Kedua, mereka dilatih untuk mengenal situasi lingkungannya sehingga bisa
mendapatkan manfaat dari lingkungannya secara optimal sekaligus memberikan manfaat
balik kepada lingkungan secara professional. Ketika, mereka dilatih untuuk membuat suatu
perencanaan yang matang, sehingga segala sesuatunya berjalan dalam jalur yang telah
disepakati. Keempat, mereka dilatih untuk mengevaluasi setiap hasil karya mereka,
bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan dan senantiasa meningkatkan kinerja
mereka. Kelima, ciri SDM yang akan dibentuk adalah yang unggul dalam berikhtiar.
Kombinasi ibadah yang bagus, strategi hidup yang tepat dan ikhtiar dengan bersungguh-
sungguh akan menjadikan hidup sebagai mesin penghasil karya.
Pola MQ sampai sejauh ini telah menghasilkan SDM yang unggul, hal ini terbukti
dari berkembangnya perekonomian di lingkungan Daarut Tauhid dan meningkatnya
kepercayaan masyarakat terhadapnya, diantaranya dengan kepercayaan untuk mengadakan
pelatihan dan pendidikan manajemen untuk para eksekutif di PT Telkom, BNI, IPTN dan PT
Kereta Api Indonesia. Mereka tertarik dengan konsep manajemen Daarut Tauhid karena
diyakini mampu meningkatkan etos kerja dan menurunkan tingkat penyelewengan kerja,
seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar